Pemimpin dan Pimpinan

pemimpin

“Ketika bangsa ini tertatih-tatih, haruskah kita kehilangan banyak pemimpin?”

Pemimpin dan pimpinan adalah dua kata yang seakan sama, namun memiliki dua makna yang berbeza. Ketika kita diajukan dengan pertanyaan yang manakah yang lebih baik maknanya, maka kemungkinan kita akan kebingungan untuk menentukan isinya.

Pimpinan memiliki pemahaman bahawa ia harus memimpin berdasarkan pengangkatan, dalam erti kata lain suka atau tidak suka orang bawahannya ia tetap menjadi orang yang memimpin suatu jabatan. Makna pemimpin pula adalah ia memimpin berdasarkan pengakuan oleh orang bawahannya, dalam erti kata lain sememangnya orang  yang benar-benar layak memimpin.Lalu apa kaitannya perbahasan kita dengan  pemahaman terhadap kedua-dua perkataan tersebut? dan apa hubungannya dengan kebangsaan? ada, dan ternyata ini adalah salah satu hal yang membuat kita tidak mampu untuk bangkit daripada ketinggalan. Bangsa Melayu adalah bangsa yang memiliki hak keistimewaan yang besar dan memiliki kuasa politik yang cukup kuat.

Maka bukan khayalan lagi, kita pun sebenarnya harus segera sedar dan bertindak untuk melakukan perubahan yang bererti bagi kemajuan bangsa. Berbicara tentang pemimpin dan pimpinan, kita akan kembali kepada konteks “pendewasaan” peradaban. Dalam erti kata lain tidak mudah untuk melahirkan pemimpin jika dibandingkan dengan pimpinan.

Seorang pimpinan yang diragui kemampuannya, mahu tidak mahu harus memimpin karena ia diangkat meskipun kadang kala tidak mempunyai jiwa seorang pemimpin. Namun seorang pemimpin itu memang layak untuk dicari dan diperjuangkan. Mari kita fikirkan bersama-sama, apakah memang sudah banyak pemimpin di negara ini, sama-sama kita perhatikan hadis Rasulullah saw ini:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabanya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim )

Berbicara mengenai pimpinan siapa saja boleh memimpin, namun yang harus kita perbetulkan di sini apakah memang dia mampu jadi pimpinan atau apa benar ia memiliki jiwa pemimpin? sebenarnya yang harus kita cari adalah pemimpin iaitu orang-orang yang bertanggungjawab dengan segala kesedarannya untuk menjaga amanah yang diberikan kepadanya, yang berani mengambil risiko untuk kepentingan umum meskipun dirinya sendiri harus menderita.

Keadaan bangsa pada saat ini sangat kritikal kerana kita kekurangan pemimpin dan bukan mengalami krisis pimpinan. Untuk menjadi pemimpin waktu yang lama diperlukan, ianya boleh dibaratkan seperti emas yang terbenam dalam lumpur yang pekat maka harus segera di bersihkan agar memang ia terlihat sebagai barang yang berharga. Walaubagaimanapun, tidak semua orang mahu atau mampu untuk menjalani proses yang akan menjadikan dirinya seorang pemimpin.

Kita memang dijadikan untuk menjadi pemimpin seperti yang terkandung di dalam surah Al-Baqarah ayat 30, namun pada kehidupannya kita mudah lupa bahwa kita ini pemimpin dan akan ditanya tentang tanggungjawab dan perbuatan yang kita lakukan di atas dunia. Sebagai seorang pemimpin kita harus melakukan islah(perubahan) di muka bumi agar pengakuan kita terhadap Allah seperti yang diterangkan dalam surah Al-A’raf ayat 172 mengenai kesaksian kita terhadap Allah sebagai Rabb benar-benar terlaksana.

dunia

Bangsa ini sebenarnya amat memerlukan pemimpin yang sedar dan faham bahawa dirinya akan dipersoalkan mengenai tanggungjawabnya di dunia ini. Oleh sebab itu, tidak perlu lagi untuk kita menunggu dipimpin oleh pimpinan yang tidak memiliki jiwa pemimpin. Sudah tiba masanya untuk kita mengorak langkah untuk bangkit dari lena yang panjang dan sedar bahwa kita sendiri adalah seorang pemimpin.

Syeikh Syed Qutb memberikan pemahaman bahawa seseorang akan meninggal jika rezekinya memang telah habis dan tugasnya telah selesai. Tugasnya telah selesai bererti kembali kepada pemahaman bahawa kita harus berusaha untuk merdeka sesuai tafsiran surat Al-Imran ayat 110 yakni makna merdeka di sini adalah merdeka untuk menyatakan pendapat (amar ma’ruf), merdeka untuk mengkritik yang salah (nahi munkar) dan merdeka untuk beriman kepada Allah (Tafsir Al Azhar).

Seorang pemimpin harus berani untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan bersedia  untuk dikritik, seorang pemimpin tidak akan berani berkata saya letih ataupun saya mahu berehat ketika mana rakyat masih belum benar-benar berasakan keadilan dan kesejahteraan di bawah kendaliannya.

Dan pemimpin itu tidak akan menjual keadilan hanya untuk kepentingan dirinya karena ia sedar bahawa Yasytaruna bi ayatil-lahi tsamanan qalila, meskipun ditawarkan emas sebesar dunia ia tidak akan goyah untuk terus melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Pemimpin juga perlu menjadi pendengar setia dan penjaga keadilan untuk kesejahteraan rakyatnya sehinggakan rakyat berasa tenteram dan melakukan yang terbaik untuk agama, bangsa dan negara kerana mereka ikhlas dipimpin.

(Artikel asal dipetik dari dakwatuna karangan Ridwan dan disunting semula oleh PEMBINA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: