TV oh TV…..

Televisyen

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, lembaran kehidupan manusia tidak pernah lepas daripada diwarnai nilai-nilai yang lahir dari media elektronik, media komunikasi dan dunia siber internet. Media ini sebati juga dengan diri mereka. Bagi seorang muslim, semua ini sepatutnya dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan potensi diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Seperti mana yang telah disebut oleh Rasullulallah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. رواه الترمذي

Dari Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Diantara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.” HR Imam At-Tirmidzi, hadits gharib.

Bahaya Televisyen

Persoalannya sekarang; apakah kemajuan teknologi maklumat ini berbahaya bagi kehidupan kita? Apakah hal ini bertentangan dengan ibadah yang merupakan tujuan kehidupan ini? Dan apakah sangat bermanfaat bagi kita sehingga mampu meningkatkan produktiviti negara? Cuba kita renungkan sejenak hasil survey tayangan televisyen:“Benjamin Olken, pakar ekonomi dari MIT, beberapa tahun lalu pernah melakukan kaji selidik terhadap pengaruh televisyen di kalangan rumah tangga Indonesia. Kita tahu bahwa pulau Jawa adalah daratan yang terdiri dari sejumlah gunung dan dataran tinggi. Akibatnya ada wilayah yang mendapat siaran televisyenon dengan baik namun ada juga yang terperangkap bayangan dataran tinggi sehingga penerimaan siarannya terbatas.

Olken memantau lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta membandingkan antara desa yang menerima sedikit siaran dengan desa yang menerima banyak saluran televisyen. Hasilnya cukup menarik. Setiap bertambah satu saluran televisyen yang dilihat, rata-rata mereka menonton televisyen sekurang-kurangnya tujuh menit lebih lama. Ketika pemantauan ini dilakukan, hanya ada 7 stesyen televisyen nasional. Andaikata pemantauan tersebut dilakukan saat ini, boleh jadi waktunya akan bertambah besar.

Dalam penemuan lain, di desa yang menerima siaran televisyen yang lebih bagus menunjukkan tahap penglibatan kegiatan sosial yang lebih rendah. Dalam erti kata yang lain, orang lebih suka menonton televisyen daripada terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Lebih dari itu, di desa tersebut juga wujud gejala ketidakpercayaan yang lebih tinggi di kalangan penduduk. Berpunca daripada kelesuan kerjasama perekonomian dan perdagangan.”(Pengaruh Televisyen Bagi Masyarakat Indonesia, Nofie Iman)

Kemajuan teknologi maklumat boleh bukan sahaja memberikan impak yang positif malahan impak yang negative. Penggunalah yang berkuasa sepenuhnya untuk menentukan impak mana yang mereka mahukan. Apakah mereka ingin mendapat manfaat daripada kemajuan tersebut atau sebaliknya. Dari kaji selidik di atas kita boleh katakan, rendahnya tahap penglibatan masyarakat dalam kegiatan social adalah kerana lebih suka menghabiskan masa untuk menonton televisyen di rumah terutamanya menonton siaran yang tidak memberi manfaat kepada mereka.

boy-tv

Kita boleh simpulkan kesan buruk menonton televisyen seperti yang berikut:

1 – Sarana ghazwul fikri (perang pemikiran) dan merosak akhlak

2 – Sarana sosialisasi budaya permisif, konsumtif, materialistik dan hedonisme

3 – Sarana menghabiskan waktu untuk yang tidak berfaedah

Tiga hal ini pasti wujud dalam rancangan yang disiarkan apabila yang mengelola media elektronik adalah orang yang hanya bertujuan untuk mengejar keuntungan tanpa memperhatikan aspek pembangunan sosial dan peribadi. Dan juga orang-orang yang mempunyai tujuan untuk merosak moral anak bangsa dan menjauhkan pemuda dari nilai-nilai agama. Maka yang muncul di layar televisyen, internet dan media elektronik lainnya, hanyalah program-program yang berbau pornografi, mendorong pergaulan bebas, budaya hidup permisif dan materialistik. Cuba kita renungkan apa yang pernah diserukan oleh Samuel Zuemer di hadapan para misionaris pada tahun 1935 di Al-Quds: “Tujuan kalian bukan untuk mengeluarkan mereka dari agamanya, akan tetapi memutuskan hubungan dari tali agama sehingga tidak memiliki ikatan akhlak yang kuat…”

Sikap Kita Terhadap televisyen

Dalam meniti kehidupan yang fana ini, perlunya kita koreksi citra diri dan keluarga berkaitan dengan media elektronik. Kerana bukan hanya diri kita yang dituntut untuk menjadi peribadi yang mempesona, akan tetapi juga isteri dan anak-anak kita. Itulah yang ditegaskan Allah SWT dalam salah satu ayatnya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim: 6)

Melalui ayat ini, kita harus sedar betapa pentingnya untuk menjaga diri dan keluarga kita dari menonton hal-hal yang tidak berfaedah. Semoga kita masih memiliki rasa malu dalam memilih program yang berfaedah dan sesuai untuk ditonton oleh keluarga kita. Rasulullah SAW bersabda:

Dari Ibnu Mas’ud ra –secara marfu’-: “Rasa malu kepada Allah SWT bila kamu menjaga kepala dan isinya, perut dan yang di dalamnya dan hendaklah kamu mengingat kematian dan kehancuran. Maka sesiapa yang melakukan itu, sungguh dia telah memiliki rasa malu yang sebenarnya kepada Allah” HR Imam At-Tirmidzi

Kesimpulannya apa yang perlu kita perhatikan daripada siaran televisyen adalah:

Pertama: Memilih program yang bermanfaat dan memiliki nilai pendidikan. Jangan sampai kita membiarkan diri kita larut dalam pilihan yang salah bahkan menjerumuskan anak-anak kita dalam kebinasaan. Orang tua harus mendampingi anak-anak ketika mereka menonton siaran TV. Tidak hanya mendampingi saja, tetapi mengarahkan kepada hal-hal yang baik dan benar untuk masa depannya. Jangan sampai menjadi generasi yang mengabaikan ibadah dan mengikuti hawa nafsunya. Apalagi sangat banyak tayangan cerekarama yang tidak mendidik para pemuda, bahkan menjerumuskan mereka untuk mengikuti dan menteladani hal-hal yang mengarah kepada kebejatan sosial. Allah SWT berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang mensiakan solat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal soleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (QS. Maryam: 59-60)

Kedua: Memperhatikan waktu secara tepat. Jangan sampai ada satu pun waktu yang berlalu tanpa ada satu kebaikan yang kita dapat. Jangan biarkan Waktu-waktu kita berlalu dengan tayangan-tayangan gosip, ghibah, pornografi dan pornoaksi. Orang bijak berkata:

“Apabila kamu berbicara, ingatlah bahwa Allah SWT mendengar kamu dan apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Dia melihatmu.” (dari Imam Ahmad bin Mani’, Ar-Rabi’ bin Khutsaim dan Hatim Al-Asham, lihat Siar A’laam An-Nubalaa: 11/485, shifat Ash-Shofwah: 3/68 & 4/162)

Semoga artikel ini dapat menyedarkan pembaca semua terutamanya golongan belia yang sentiasa terdedah dengan rancangan musuh Islam yang ingin menjauhkan mereka daripada ajaran Islam yang sebenar. Wallahualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: